Sabtu, 22 Juni 2013

Jangan Bilang Rindu!!

Aku menulis ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kautebak. Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?

Entah karena kauterlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.
Apakah kesabaran dan perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kaumengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari kebersamaan kita?

Aku ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku perjuangkan? Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?

Kamu jauh di sana, tak banyak yang kulakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapamu dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain saling merindukan. Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.

Perlukah aku membandingkan kamu dengan wanita-wanita lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku? Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!

Jangan bilang rindu, jika kautak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.

Selasa, 18 Juni 2013

Arti Perpisahan Kita

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini bernama tanpamu."
Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan harus terjadi, untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu sekedar mengingatkan untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.
Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.
Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu  tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu aku dan kamu menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu. 

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya :)

Senin, 17 Juni 2013

Untuk ...... *Haruskah Kusebut Namamu?

Berkali-kali aku mengelak. Ini hanyalah ketertarikan sesaat, ini hanyalah rasa yang akan padam termakan hari. Untuk seterusnya, aku selalu menganggap hal ini biasa. Sampai pada suatu ketika, aku merindukan suaramu, menyentuh lembut gendang telingaku. Sejak pertama kali mendengar suaramu, seperti ada sentuhan asing yang menyentuh indra pendengaranku. Sekelebat suara seperti terus merasuk di otakku, suara siapa lagi kalau bukan suaramu? Iya... pemilik suara itu adalah kamu.
Lalu, suaramu berlari, pergi menghilang dari udara. Detik itu seakan-akan berhenti dan membeku. Menit yang tadinya penuh dengan kupu-kupu berterbangan sekejap berubah menjadi tawon yang seakan menyekat kulit. Semua berbeda! Senyum yang sejak tadi melenggang di bibirku berubah menjadi muka yang melipat, seperti menyesali kepergiaan sesuatu. Iya... kepergian pemilik suara itu, kamu harus pamit dari udara! Dan... aku terluka!
Aku menunggu hari yang sama agar bisa kembali mendengar bisikkan suaramu yang menderas dan menggema dalam telinga dan hatiku. Kalau aku boleh bercerita tentang perjuanganku, aku seringkali mencari-cari berita dan kabar tentangmu. Mungkin, kamu tak mau tahu dan tak mau mengerti. Karena, ini bukan perasaan penting, yang harus kubesar-besarkan. Toh, aku menikmati detik-detik aku mencari-cari bayangmu di tengah luasnya dunia maya.
Sebut saja aku bodoh, karena bisa begitu saja tertarik hanya karena mendengar suaramu. Sebut saja aku abnormal, karena mulai merasa gelisah jika dalam rentan waktu tertentu tak mendengar suaramu. Kembali ke bagian awal, ini bisa saja hanya ketertarikan sesaat. Lagipula, aku tak berani menganggumu, apalagi menyapamu lebih dulu, apalagi mengetahui berita terhangat tentangmu. Jadi... aku hanya bisa mendoakanmu. Tak lebih. Dan berharap semua mengalir dan berjalan seperti ini. Dan berharap perasaan bodoh ini tak meletup dan mencuat lebih kuat lagi.

Kamu menceritakan tentang surga di telingaku. Kamu malaikat yang menyanyi merdu di telingaku.
Tentu saja, aku tidak akan berbicara banyak. Aku tak akan menyakinkanmu untuk mengenalku lebih jauh. Aku juga tak akan menyadarkanmu tentang sosokku. Aku tentu saja tak akan memaksamu untuk mengetahui sosokku yang bukan siapa-siapa ini. Kamu tentu tak mengetahui sosokku yang tersembunyi di antara ribuan pendengarmu. Aku terlalu kecil dan bukan siapa-siapa bagimu. Cukup! Tujuanku memang bukan itu
Aku hanya tak ingin kegilaanku mengusik hari-harimu.
Semoga setiap minggu kita bertemu di udara ya :)

Aku, Kamu dan Pacarku

Aneh


Banyak hal aneh yang terjadi antara dirinya, aku dan kamu. Tak pernah kusangka sebelumnya kita yang tak pernah dekat dan tak saling bicara satu sama lain kini, menjadi begitu dekat bahkan kita saling bercerita satu sama lain. Seolah kita seperti sudah kenal dekat sebelumnya. Status ku adalah miliknya, dan kamu belum menjadi milik siapa-siapa.


Jika kuingat lagi, kita menjadi dekat semenjak kita saling curhat satu sama lain. Saat itu aku sedang dalam pertengkaran dengan pacarku dan kupikir sekarang pun masih. Saat itu aku bercerita panjang lebar, kamu mendengarkan dengan penuh perhatian walaupun kamu tak terlalu banyak memberi saran tapi kurasa dengan kamu mau mendengarkan itu sudah cukup. Mulai saat itu aku merasakan ada sesuatu...

Kamu selalu ada untukku, justru aku mengharapkan dirinya pacarku yang slalu ada untukku ketika aku sangat membutuhkan semangat darinya, tapi aneh.. justru kamu yang datang memberi aku semangat dengan senyum manis yang terukir di bibirmu.

Lalu kita sering jalan berdua, layaknya hal yang dulu sering kulakukan dengan pacarku, setiap malam kita slalu mengirim pesan atu sama lain, tiap malam kita selalu menelfon satu sama lain, aneh seharusnya aku melakukan itu dengan dirinya pacarku.

Kenapa kamu begitu baik terhadapku? aku merasakan, ku tak bodoh.. ada cinta di dalam semua kebaikanmu, tapi aku tlah memilikinya, aku tak bisa memilikimu. Aku tau cintamu lebih besar darinya, tapi sekali lagi aku tak bisa.

Andai saja saat ini aku masih sendiri, aku pasti akan memilihmu, andai saja saat itu aku lebih dulu bertemu denganmu pasti sekarang kita telah bersama. Aku mencintai kamu, dan dirinya. Jika boleh jujur, aku telah jatuh cinta padamu.

Minggu, 16 Juni 2013

Apakah Ini Yang Namanya Pengorbanan?

Saya masih mengurusi luka yang tergores beberapa minggu yang lalu. Luka yang saya obati sendiri, dengan jemari saya sendiri, dengan perjuangan sendiri. Di hidup ini, harus ada yang datang dan pergi, agar saya paham arti singgah dan menetap. Di hidup ini, harus ada yang tinggal dan menghilang, agar saya tahu yang terbaik pastilah yang tetap tinggal dan tidak akan menghilang; kecuali jika Tuhan mengizinkan "kehilangan".
Saya tak tahu bahwa kebodohan saya bisa begitu berlipat ganda. Saya tak yakin jika ini semua saya lakukan karena saya mencintai dia. Rasanya sangat sulit melupakan sosok yang saya harapkan tetap tinggal tapi ternyata dia pergi. Sungguh sangat berat menghilangkan seseorang yang saya kira akan menetap tapi pada akhirnya dia pergi. Saya, sebagai manusia biasa, hanya bisa berharap pada setiap pertemuan, dan berdoa agar perpisahan tak cepat-cepat merenggut dia dari genggaman saya. Sebagai manusia yang serba terbatas, saya hanya mampu menjaga, saya tak tahu kapan ia akan pergi, kapan dia akan meninggalkan saya.
Perkenalan yang saya pikir akan berujung bahagia ternyata berakhir dengan siksa. Sekarang, saya tak lagi menangisi kehilangan, saya hanya bingung mengapa pertemuan yang begitu singkat bisa memunculkan kesan yang mendalam. Kadang, saya tak sadar, bahwa ketika bibir seseorang mengucap "Hai" sebenarnya saat itu juga saya harus siap pada banyak risiko; risiko kehilangan. Dunia ini penuh teka-teki, sebagai manusia yang mencoba menjawab dengan perasaan dan otak yang terbatas, kadang saya hanya bisa menangkap isyarat-isyarat kecil saja.
Dengan membawa sisa hati yang remuk, saya disadarkan oleh kicauan Sudjiwo Tedjo, salah satu sosok yang saya kagumi. Jemarinya yang ajaib menulis "Cinta tak perlu pengorbanan. Saat kamu mulai berasa berkorban, saat itu juga cintamu mulai pudar." Ah, betapa kalimat ini begitu menyentak saya. Memang, seringkali ketika berbuat untuk seseorang, manusia menyebut hal itu adalah pengorbanan. Begitu juga ketika saya mencintai dia. Saya tak tahu pasti apakah saya memang berkorban untuk dia atau sakit hati saya terlalu besar, hingga pada akhirnya, setelah saya dan dia tak lagi bersama, saya menyatakan diri bahwa saya telah berkorban banyak untuknya. Apakah cinta saya pudar? Oh, betapa manusia berbeda dengan Tuhan, yang tak pernah ungkit-ungkit pengorbananNya di kayu salib, yang tak pernah bilang betapa sakitnya lambung yang ditusuk dengan tombak, dan betapa perihnya mahkota duri yang tersemat di kepala.
Saya sedang merapikan hati saya yang patah. Mencoba menyambungkan mozaik-mozaik yang terlepas karena kebodohan saya sendiri. Lalu, saya berpikir sekali lagi, apakah benar cinta saya padanya telah pudar? Iya, sekarang sudah pudar, karena pada akhirnya saya merasa berkorban untuknya. Pada akhirnya, saya, yang sedang berusaha menghilangkan cinta, mengingat banyak perbuatan, yang (tiba-tiba) saya sebut pengorbanan. Apakah cinta saya tak tulus?
Pengorbanan biasanya dilakukan meskipun kamu kesakitan. Tapi, ketika jatuh cinta; ketika kaumasih terbangun tengah malam hanya untuk mendengar suaranya, saat kaumenunggunya menyelesaikan tugas, manakala pesan singkatnya kaunanti— kautak pernah merasa disakiti. Semua dilakukan atas dasar cinta, kaumencintainya maka kaubersedia menunggunya. Kaumencintainya, maka kauizinkan dirimu terus menanti, meskipun pada akhirnya dia tak menjadikanmu tujuan. Bukankah air matamu untuknya tetap kaupandang sebagai keindahan, kaumenangis karena mencintainya, bukan karena kaumerasa berkorban.
Lucu, ya, betapa kata pengorbanan yang sering kita anggap sepele ternyata bisa begitu magis ketika digali. Saya sudah sering disakiti begini. Sudah tahu rasanya dicintai, namun pada akhirnya dia memilih pergi bersama teman saya sendiri. Sudah tahu rasanya diterbangkan tinggi, namun tiba-tiba dihempaskan begitu saja. Lantas, walaupun kita seringkali merasa disakiti, mengapa rasa sakit itu tak pernah membuat kita kapok untuk jatuh cinta lagi?
Betapa kekuatan cinta bisa membebaskan kita dalam banyak hal, melupakan "rasa sakit" yang seringkali diucapkan orang-orang sekitar kita, ketika mereka menasehati; bahwa segalanya harus diakhiri. Ya, cinta soal keikhlasan, tak pernah merasa berkorban. Cinta tak butuh alasan, karena ketika pada akhirnya kautemukan alasan untuk mencintainya, maka cintamu pudar.
Cinta tak butuh pengorbanan. Apapun yang kaulakukan untuknya adalah dasar karena kauinginkan dia bahagia. Termasuk ketika kauikhlaskan dia untuk sahabatmu. Termasuk ketika kaubiarkan ia pergi, namun wirid dan ucap doamu masih mengiringinya.