Selasa, 27 Agustus 2013

Jika Dari Awal Aku Tak Mengenalmu

Akhirnya, aku sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu.
 
 
Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya jadi aku.
 
 
Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan.
 
 
Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? 
 
 
Jika kauingin tahu, aku kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu masih tertutup ragu?
 
 
Sejak dulu, harusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menggubris. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi. 
 
 
Iya. Aku bodoh. Puas?
 
 
Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Ini bukan akhir yang kupilih. Seandainya aku bisa memilih cerita akhir, aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kautahu; di sini aku selalu bergetar ketika mendoakanmu.

Sabtu, 27 Juli 2013

Mencoba Bertahan


Aku menghela napas, aku merasa bebas. Ternyata, aku bisa hidup tanpamu selama sebelas minggu. Aku masih (terlihat) baik-baik saja meskipun kamu tak lagi sering memberitahu kabarmu. Tapi, tidak munafik jika dalam rentan waktu tanpamu, aku masih sering merindukanmu.


Kamu masih menjadi yang penting di kepalaku. Kamu masih menggenggam hatiku. Dan, betapa aku masih sangat berusaha untuk memungkiri kenyataan itu. Aku sedang berupaya lepas darimu. Sudah sebelas minggu, ketika kamu melambaikan tangan dengan tatapan hangat di dekat perpustakaan universitas kita, tempat aku dan kamu menimba ilmu. Sudah hampir tiga bulan berlalu, ketika genggaman jemarimu terasa masih begitu hangat di jemariku. Sekali lagi, aku menghela napas, berharap kenangan kita tak lagi membuatku merasa perih, yang masih belum bisa kuterima; mengapa kaupergi saat aku sedang cinta-cintanya?


Aku sudah bercerita padamu tentang tempat favoritku bukan? Tempat aku dan kamu sempat menjadi yang paling bahagia karena sama-sama tahu kita sedang jatuh cinta. Sekarang, ketika duduk di tempat itu sendirian, aku punya kebiasaan yang aneh. Mataku nanar menatap bangku yang kosong di sampingku. Kamu ingat? Sebelas minggu yang lalu, kamu masih duduk di situ; tepat di sampingku. 


Kita tertawa terbahak-bahak saat itu, Sayang. Tawa yang kurasakan begitu manis dan menghangatkan hatiku. Tawa yang kukira akan selalu kita rasakan dan kita lewati bersama.
 Rasanya aku ingin kamu kembali hadir di depan mataku. Rasanya, aku ingin kamu kembali nyata dalam duniaku, tak hanya hadir dalam bisikan doaku.


Mengenai percakapan singkat yang tercipta beberapa hari yang lalu, cukup mampu mengobati rindu. Kita bercakap-cakap dengan sederhana, dengan luka yang begitu cerdas kusembunyikan. Dengan panggilan yang tak lagi "Aku" dan "Kamu", aku merasakan jurang yang selama ini telah menjauhkan kita. Aku sadar betapa selama sebelas minggu ini kita sudah terlalu berjarak.


Seperti biasa, kamu selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Seperti biasa, aku (berusaha keras) terlihat bahagia juga baik-baik saja. Aku tak tahu apakah selama ini kamu juga merasakan yang kurasakan. Aku juga tak tahu apakah kamu merasakan rindu sedalam yang kurasakan. Kita saling tak tahu, seperti aku yang tak pernah tahu bagaimana sesungguhnya perasaanmu.


Dulu, aku sempat melihat cinta di matamu, Sayang. Aku melihat dunia yang sungguh belum pernah kusinggahi, aku terjebak dalam bayang-bayangmu; dan aku tak mampu lagi menghindar pergi. Aku berhenti pada sosokmu, sementara ketika aku mulai ingin membangun segalanya bersamamu, kamu malah memilih pergi. Kamu sudah bawa aku berjalan terlalu jauh, aku percaya bahwa kamu akan menemaniku sampai perjalanan kita selesai, tapi ternyata kamu tidak menemaniku.



Sayang, sebelas minggu setelah kepergianmu, nyatanya memang tak banyak berubah. Aku masih mencari-cari kabarmu, masih berharap kita bisa kembali seperti dulu, dan masih berharap bahwa Tuhan mengizinkan waktu kembali diputar ulang. Seandainya kamu tahu seberapa dalam lukaku, seandainya kamu paham seberapa besar rinduku, dan seandainya kamu mencintaiku sedalam aku mencintaimu; pasti tak akan ada rasa trauma seperti ini.


Untuk Cahaya Penunjukku yang telah pergi, bisakah kuminta kamu segera kembali?

Sabtu, 22 Juni 2013

Jangan Bilang Rindu!!

Aku menulis ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kautebak. Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?

Entah karena kauterlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.
Apakah kesabaran dan perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kaumengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari kebersamaan kita?

Aku ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku perjuangkan? Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?

Kamu jauh di sana, tak banyak yang kulakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapamu dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa aku lakukan selain saling merindukan. Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.

Perlukah aku membandingkan kamu dengan wanita-wanita lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku? Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!

Jangan bilang rindu, jika kautak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.

Selasa, 18 Juni 2013

Arti Perpisahan Kita

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini bernama tanpamu."
Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan harus terjadi, untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu sekedar mengingatkan untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.
Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.
Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu  tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu aku dan kamu menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu. 

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya :)

Senin, 17 Juni 2013

Untuk ...... *Haruskah Kusebut Namamu?

Berkali-kali aku mengelak. Ini hanyalah ketertarikan sesaat, ini hanyalah rasa yang akan padam termakan hari. Untuk seterusnya, aku selalu menganggap hal ini biasa. Sampai pada suatu ketika, aku merindukan suaramu, menyentuh lembut gendang telingaku. Sejak pertama kali mendengar suaramu, seperti ada sentuhan asing yang menyentuh indra pendengaranku. Sekelebat suara seperti terus merasuk di otakku, suara siapa lagi kalau bukan suaramu? Iya... pemilik suara itu adalah kamu.
Lalu, suaramu berlari, pergi menghilang dari udara. Detik itu seakan-akan berhenti dan membeku. Menit yang tadinya penuh dengan kupu-kupu berterbangan sekejap berubah menjadi tawon yang seakan menyekat kulit. Semua berbeda! Senyum yang sejak tadi melenggang di bibirku berubah menjadi muka yang melipat, seperti menyesali kepergiaan sesuatu. Iya... kepergian pemilik suara itu, kamu harus pamit dari udara! Dan... aku terluka!
Aku menunggu hari yang sama agar bisa kembali mendengar bisikkan suaramu yang menderas dan menggema dalam telinga dan hatiku. Kalau aku boleh bercerita tentang perjuanganku, aku seringkali mencari-cari berita dan kabar tentangmu. Mungkin, kamu tak mau tahu dan tak mau mengerti. Karena, ini bukan perasaan penting, yang harus kubesar-besarkan. Toh, aku menikmati detik-detik aku mencari-cari bayangmu di tengah luasnya dunia maya.
Sebut saja aku bodoh, karena bisa begitu saja tertarik hanya karena mendengar suaramu. Sebut saja aku abnormal, karena mulai merasa gelisah jika dalam rentan waktu tertentu tak mendengar suaramu. Kembali ke bagian awal, ini bisa saja hanya ketertarikan sesaat. Lagipula, aku tak berani menganggumu, apalagi menyapamu lebih dulu, apalagi mengetahui berita terhangat tentangmu. Jadi... aku hanya bisa mendoakanmu. Tak lebih. Dan berharap semua mengalir dan berjalan seperti ini. Dan berharap perasaan bodoh ini tak meletup dan mencuat lebih kuat lagi.

Kamu menceritakan tentang surga di telingaku. Kamu malaikat yang menyanyi merdu di telingaku.
Tentu saja, aku tidak akan berbicara banyak. Aku tak akan menyakinkanmu untuk mengenalku lebih jauh. Aku juga tak akan menyadarkanmu tentang sosokku. Aku tentu saja tak akan memaksamu untuk mengetahui sosokku yang bukan siapa-siapa ini. Kamu tentu tak mengetahui sosokku yang tersembunyi di antara ribuan pendengarmu. Aku terlalu kecil dan bukan siapa-siapa bagimu. Cukup! Tujuanku memang bukan itu
Aku hanya tak ingin kegilaanku mengusik hari-harimu.
Semoga setiap minggu kita bertemu di udara ya :)

Aku, Kamu dan Pacarku

Aneh


Banyak hal aneh yang terjadi antara dirinya, aku dan kamu. Tak pernah kusangka sebelumnya kita yang tak pernah dekat dan tak saling bicara satu sama lain kini, menjadi begitu dekat bahkan kita saling bercerita satu sama lain. Seolah kita seperti sudah kenal dekat sebelumnya. Status ku adalah miliknya, dan kamu belum menjadi milik siapa-siapa.


Jika kuingat lagi, kita menjadi dekat semenjak kita saling curhat satu sama lain. Saat itu aku sedang dalam pertengkaran dengan pacarku dan kupikir sekarang pun masih. Saat itu aku bercerita panjang lebar, kamu mendengarkan dengan penuh perhatian walaupun kamu tak terlalu banyak memberi saran tapi kurasa dengan kamu mau mendengarkan itu sudah cukup. Mulai saat itu aku merasakan ada sesuatu...

Kamu selalu ada untukku, justru aku mengharapkan dirinya pacarku yang slalu ada untukku ketika aku sangat membutuhkan semangat darinya, tapi aneh.. justru kamu yang datang memberi aku semangat dengan senyum manis yang terukir di bibirmu.

Lalu kita sering jalan berdua, layaknya hal yang dulu sering kulakukan dengan pacarku, setiap malam kita slalu mengirim pesan atu sama lain, tiap malam kita selalu menelfon satu sama lain, aneh seharusnya aku melakukan itu dengan dirinya pacarku.

Kenapa kamu begitu baik terhadapku? aku merasakan, ku tak bodoh.. ada cinta di dalam semua kebaikanmu, tapi aku tlah memilikinya, aku tak bisa memilikimu. Aku tau cintamu lebih besar darinya, tapi sekali lagi aku tak bisa.

Andai saja saat ini aku masih sendiri, aku pasti akan memilihmu, andai saja saat itu aku lebih dulu bertemu denganmu pasti sekarang kita telah bersama. Aku mencintai kamu, dan dirinya. Jika boleh jujur, aku telah jatuh cinta padamu.

Minggu, 16 Juni 2013

Apakah Ini Yang Namanya Pengorbanan?

Saya masih mengurusi luka yang tergores beberapa minggu yang lalu. Luka yang saya obati sendiri, dengan jemari saya sendiri, dengan perjuangan sendiri. Di hidup ini, harus ada yang datang dan pergi, agar saya paham arti singgah dan menetap. Di hidup ini, harus ada yang tinggal dan menghilang, agar saya tahu yang terbaik pastilah yang tetap tinggal dan tidak akan menghilang; kecuali jika Tuhan mengizinkan "kehilangan".
Saya tak tahu bahwa kebodohan saya bisa begitu berlipat ganda. Saya tak yakin jika ini semua saya lakukan karena saya mencintai dia. Rasanya sangat sulit melupakan sosok yang saya harapkan tetap tinggal tapi ternyata dia pergi. Sungguh sangat berat menghilangkan seseorang yang saya kira akan menetap tapi pada akhirnya dia pergi. Saya, sebagai manusia biasa, hanya bisa berharap pada setiap pertemuan, dan berdoa agar perpisahan tak cepat-cepat merenggut dia dari genggaman saya. Sebagai manusia yang serba terbatas, saya hanya mampu menjaga, saya tak tahu kapan ia akan pergi, kapan dia akan meninggalkan saya.
Perkenalan yang saya pikir akan berujung bahagia ternyata berakhir dengan siksa. Sekarang, saya tak lagi menangisi kehilangan, saya hanya bingung mengapa pertemuan yang begitu singkat bisa memunculkan kesan yang mendalam. Kadang, saya tak sadar, bahwa ketika bibir seseorang mengucap "Hai" sebenarnya saat itu juga saya harus siap pada banyak risiko; risiko kehilangan. Dunia ini penuh teka-teki, sebagai manusia yang mencoba menjawab dengan perasaan dan otak yang terbatas, kadang saya hanya bisa menangkap isyarat-isyarat kecil saja.
Dengan membawa sisa hati yang remuk, saya disadarkan oleh kicauan Sudjiwo Tedjo, salah satu sosok yang saya kagumi. Jemarinya yang ajaib menulis "Cinta tak perlu pengorbanan. Saat kamu mulai berasa berkorban, saat itu juga cintamu mulai pudar." Ah, betapa kalimat ini begitu menyentak saya. Memang, seringkali ketika berbuat untuk seseorang, manusia menyebut hal itu adalah pengorbanan. Begitu juga ketika saya mencintai dia. Saya tak tahu pasti apakah saya memang berkorban untuk dia atau sakit hati saya terlalu besar, hingga pada akhirnya, setelah saya dan dia tak lagi bersama, saya menyatakan diri bahwa saya telah berkorban banyak untuknya. Apakah cinta saya pudar? Oh, betapa manusia berbeda dengan Tuhan, yang tak pernah ungkit-ungkit pengorbananNya di kayu salib, yang tak pernah bilang betapa sakitnya lambung yang ditusuk dengan tombak, dan betapa perihnya mahkota duri yang tersemat di kepala.
Saya sedang merapikan hati saya yang patah. Mencoba menyambungkan mozaik-mozaik yang terlepas karena kebodohan saya sendiri. Lalu, saya berpikir sekali lagi, apakah benar cinta saya padanya telah pudar? Iya, sekarang sudah pudar, karena pada akhirnya saya merasa berkorban untuknya. Pada akhirnya, saya, yang sedang berusaha menghilangkan cinta, mengingat banyak perbuatan, yang (tiba-tiba) saya sebut pengorbanan. Apakah cinta saya tak tulus?
Pengorbanan biasanya dilakukan meskipun kamu kesakitan. Tapi, ketika jatuh cinta; ketika kaumasih terbangun tengah malam hanya untuk mendengar suaranya, saat kaumenunggunya menyelesaikan tugas, manakala pesan singkatnya kaunanti— kautak pernah merasa disakiti. Semua dilakukan atas dasar cinta, kaumencintainya maka kaubersedia menunggunya. Kaumencintainya, maka kauizinkan dirimu terus menanti, meskipun pada akhirnya dia tak menjadikanmu tujuan. Bukankah air matamu untuknya tetap kaupandang sebagai keindahan, kaumenangis karena mencintainya, bukan karena kaumerasa berkorban.
Lucu, ya, betapa kata pengorbanan yang sering kita anggap sepele ternyata bisa begitu magis ketika digali. Saya sudah sering disakiti begini. Sudah tahu rasanya dicintai, namun pada akhirnya dia memilih pergi bersama teman saya sendiri. Sudah tahu rasanya diterbangkan tinggi, namun tiba-tiba dihempaskan begitu saja. Lantas, walaupun kita seringkali merasa disakiti, mengapa rasa sakit itu tak pernah membuat kita kapok untuk jatuh cinta lagi?
Betapa kekuatan cinta bisa membebaskan kita dalam banyak hal, melupakan "rasa sakit" yang seringkali diucapkan orang-orang sekitar kita, ketika mereka menasehati; bahwa segalanya harus diakhiri. Ya, cinta soal keikhlasan, tak pernah merasa berkorban. Cinta tak butuh alasan, karena ketika pada akhirnya kautemukan alasan untuk mencintainya, maka cintamu pudar.
Cinta tak butuh pengorbanan. Apapun yang kaulakukan untuknya adalah dasar karena kauinginkan dia bahagia. Termasuk ketika kauikhlaskan dia untuk sahabatmu. Termasuk ketika kaubiarkan ia pergi, namun wirid dan ucap doamu masih mengiringinya.

Selasa, 28 Mei 2013

Terima Kasih Sayang :')

Aku Menangis...
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu,bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Aku Ikhlas....
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Dengarlah Sayang....
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini,aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari,bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik....
Terima Kasih Sayang :')

Sabtu, 25 Mei 2013

1 Bulan Terakhir

“Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa”

Ini tentang perasaan saya kepada seseorang. Dia (mungkin) mengira saya adalah "robot" yang tidak memiliki perasaan dan tidak dapat merasakan sakit, sehingga dia bisa mengabaikan saya sesering yang dia suka. Saya selalu memberi perhatian terbaik yang bisa saya berikan, sesering mungkin saya mengingatkan dia agar tidak telat makan, dan sesabar mungkin saya mendengar semua cerita dan permasalahannya. Sayangnya, usaha terbaik saya lebih sering mendapat pengabaian, kadang dia merespon tapi respon itu tidak dia berikan dengan sungguh-sungguh. Respon itu malah terlihat seperti penghiburaan untuk seorang "robot" yang telah kelelahan dan kebingungan.

1 bulan terakhir ini, saya tidak mengerti, apakah semua yang saya lakukan untuk dia adalah hal yang sia-sia atau tidak? Saya tidak mengerti, apakah benih baik yang saya tabur telah siap menuai kebaikan yang saya harapkan atau tidak menghasilkan sama sekali.

Memang saya labil dan tidak cerdas secara emosi. Saya pernah mencoba berkali-kali untuk melupakan dia, sayangnya hal itu tidak dapat dilakukan secara instan. Status ini menyesakan, saya berada dalam posisi yang lebih sering diabaikan, dan lelah untuk berharap. Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana pembahagiaan atau sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia selalu menggantungkan perasaan saya hingga saya merasa lelah. Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia tidak pernah membuktikan sayang dan kangen itu melalui tindakannya yang cenderung sangat amat cuek. Dia berkata maaf, tapi kenyataannya dia mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Bahkan, saat saya menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu peduli dan memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu arah, selalu inisiatif dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan. Saya benci diabaikan.

Kalau benci diabaikan, lalu kenapa saya tetap bertahan saat saya perhatian tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan saat saya merasa kangen tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan dianggap “robot”? Kenapa saya bertahan diabaikan? Bahkan semua lelaki normal pun tidak ingin mengalami hal seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?

Saya memang tidak pernah menuntut perhatian lebih, karena menurut saya, dia adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang (mungkin) tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain. Saya tidak pernah menuntut dia untuk memanggil saya dengan sebutan "sayang", "beb", "dear", or many more, karena menurut saya, panggilan belum tentu melambangkan perasaan seseorang.

Kamu memang pernah membajak otak saya. Disetiap selnya berisi KAMU. Saya sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi, saya pun juga harus memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya, cinta itu harusnya mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan. Kamu tidak kunjung memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.

1 bulan terakhir, kamu yang terbaik. 1 bulan terakhir, cuma kamu yang dapat menyakiti saya dan cuma kamu yang bisa jadi obatnya. 1 bulan, terakhir ...

Kuharap Kau Mengerti

Jarak..

Kita terpisah ratusan kilometer jauhnya, ku kira itu hanyalah angka tak penting yang berada di antara kita. Tapi ternyata itulah yang disebut jarak.

Kamu Tahu?

Sakitnya jarak yang memisahkan kita membuatku selalu gelisah di tiap lelapku, meneteskan air mata di tiap doaku. Kamu tahu? aku di sini berusaha melawan jarak itu, aku berusaha bertahan dengan sisa-sisa cinta yang selalu kau sakiti. Aku tersenyum, setiap kali melihat tweetmu yang bahagia, itu artinya aku tahu bahwa kau di sana baik-baik saja dan kau bahagia di sana. Sesaat setelahnya aku sedih, karena terkadang tweet-tweet bahagiamu menunjukkan ada sesuatu dan aku tahu itu bukan untukku.

Seandainya Kamu Tahu

Entah sudah berapa kali "Sekali lagi kamu kaya gini, aku pergi" yang aku langgar, selalu bisa kucoba untuk memaafkanmu dan bertahan. Entah sudah sesering apa "Iya aku maafin jangan kaya gini lagi ya?" yang terucap dari bibirku yang penuh luka karena ku gigit tiap kali aku berusaha menahan tangisku karenamu. Aku bertahan, entah dengan alasan apa aku selalu bertahan dan memaafkan. Mungkin karena aku berharap suatu saat kau dapat mengerti cintaku.... Kapankah saat itu akan datang? karena aku tak tahu berapa lama lagi hati ini mampu menahannya.

                                                        Dari pria yang setia menunggumu.
                                                        Pria yang tak akan pernah letih untuk memaafkanmu.

Rabu, 22 Mei 2013

TERUNTUK KAMU

Teruntuk kamu yang sosoknya masih saja bernaung di dalam relung hatiku. 

Masih ingatkah dirimu dengan hari ini?.... ya hari ini seharusnya tepat 1 tahun hari jadi kita. "14 Mei 2012" Masih ingatkah kamu dengan tanggal ini? tanggal yang begitu penting bagiku, tanggal yang mengubah segalanya dalam hidupku. Oh ya... aku lupa bahwa kau sudah melupakannya.

Teruntuk kamu yang akan selalu jadi penyebab tawa dan senyumku.

Aku masih ingat saat itu, ketika aku berada di dalam kehancuran akan sakitnya realita cinta, saat itu kau datang. Tentu saja aku tidak mudah percaya awalnya karena aku telah merasakan sakitnya. Tapi seolah kau memberi harapan bagiku, kau mengulurkan tanganmu mencoba mengeluarkanku dari jurang keputusasaan. Entah kenapa aku setuju begitu saja, untuk sekali lagi aku mempercayai hatiku kepada seseorang, untuk sekali lagi aku percaya dengan yang namanya "CINTA".

Teruntuk kamu yang akan selalu aku rindukan.

Semuanya terasa begitu indah, bahkan aku lupa bahwa aku telah disakiti oleh cinta sebelumnya. Kamu yang selalu menjadi penyebab tawa dan senyumku, hanya dengan sebuah pesan singkat di pagi hari "Selamat pagi :) semangat ya hari ini"  membuat aku lebih bersemangat menjalani hari, walaupun aku tahu bahwa hari yang akan kujalani tidak akan mudah, tapi aku yakin aku percaya. Dengan tegas aku melangkah karena aku tahu kau ada dibelakangku mendorong badanku agar tetap tegak setiap kali aku hampir putus asa. Saat dinginnya malam datang aku mulai kedinginan tanganku membeku, tapi selalu ada tanganmu yang datang menghangatkan. Di setiap doa kita selalu mengeja nama yang sama, mendoakan satu sama lain. Semakin lama aku bersamamu aku semakin yakin inilah cara Tuhan membahagiakanku setelah kepedihan yang kurasa dulu.

Teruntuk kamu yang juga menjadi penyebab tangisku.

Tiba-tiba semuanya berubah, dengan sekejap mata semuanya berubah tanpa aku bisa melakukan apa-apa. Kepergianmu sungguh membuatku terpukul, seolah kau membuangku kembali ke dalam jurang keputus-asaan yang pernah kau selamatkan aku darinya. "Aku sudah tidak mempunyai rasa padamu, aku tidak akan perhatian kepadamu seperti dulu" kata itu yang kau ucapkan padaku saat aku menelponmu setelah kepergianmu yang begitu tiba-tiba, masih terngiang jelas di setiap sudut otakku, kata itu.. kata yang membuatku terdiam seolah membisu, begitu terpukulnya aku saat kau mengatakan itu. Aku bertanya kenapa? aku masih tak mengerti akan jalan pikirmu yang secara tiba-tiba berkata seperti itu? apakah sudah ada yang lain di hatimu?... lalu kau mengatakan "Aku ingin mengejar cita-citaku".

Teruntuk kamu yang namanya masih terukir dihatiku.

Jika ternyata kehadiranku ternyata menghambatmu dalam mengejar cita-citamu, maka aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku tak akan menyalahkanmu jika dalam proses mengejar cita-citamu kamu justru akan menemukan yang lain, aku mengerti karena alasanmu yang sebenarnya adalah kau benar-benar sudah tak ada rasa lagi padaku. Maka dari pada itu aku akan mencoba menerima kenyataan. Tak akan ada lagi dirimu yang selalu menjadi penyokongku, tak kan ada lagi pesan singkat darimu yang menjadi penyemangatku di pagi hari, tak kan ada lagi candaan darimu yang selalu membuatku tertawa setiap saat, tak kan ada lagi genggaman tanganmu yang selalu menghangatkan tanganku ketika aku kedinginan, tak kan ada lagi namaku di setiap doamu.

Teruntuk kamu...

Semoga apa yang kamu cita-citakan akan tercapai, dan semoga kau bisa menemukan seseorang yang lebih tepat, aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu. Untuk yang terakhir kalinya "Happy 1st Anniversary Bunda :))"

                                            Dari pria akan selalu mencintaimu
                                            Dari pria yang akan selalu menunggumu
                                            Aku merindukan kamu, dan kita yang dulu :')