Selasa, 28 Mei 2013
Sabtu, 25 Mei 2013
1 Bulan Terakhir
“Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa”
Ini tentang perasaan saya kepada
seseorang. Dia (mungkin) mengira saya adalah "robot" yang tidak memiliki
perasaan dan tidak dapat merasakan sakit, sehingga dia bisa mengabaikan
saya sesering yang dia suka. Saya selalu memberi perhatian terbaik yang
bisa saya berikan, sesering mungkin saya mengingatkan dia agar tidak
telat makan, dan sesabar mungkin saya mendengar semua cerita dan
permasalahannya. Sayangnya, usaha terbaik saya lebih sering mendapat
pengabaian, kadang dia merespon tapi respon itu tidak dia berikan dengan
sungguh-sungguh. Respon itu malah terlihat seperti penghiburaan untuk
seorang "robot" yang telah kelelahan dan kebingungan.
1 bulan terakhir ini, saya tidak
mengerti, apakah semua yang saya lakukan untuk dia adalah hal yang
sia-sia atau tidak? Saya tidak mengerti, apakah benih baik yang saya
tabur telah siap menuai kebaikan yang saya harapkan atau tidak
menghasilkan sama sekali.
Memang saya labil dan tidak cerdas secara
emosi. Saya pernah mencoba berkali-kali untuk melupakan dia, sayangnya
hal itu tidak dapat dilakukan secara instan. Status ini menyesakan, saya
berada dalam posisi yang lebih sering diabaikan, dan lelah
untuk berharap. Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana
pembahagiaan atau sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia
berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia selalu menggantungkan
perasaan saya hingga saya merasa lelah. Dia berkata sayang dan kangen,
tapi kenyataannya dia tidak pernah membuktikan sayang dan kangen itu
melalui tindakannya yang cenderung sangat amat cuek. Dia berkata maaf,
tapi kenyataannya dia mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi.
Bahkan, saat saya menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu
peduli dan memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu
arah, selalu inisiatif dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan.
Saya benci diabaikan.
Kalau benci diabaikan, lalu kenapa saya
tetap bertahan saat saya perhatian tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan
saat saya merasa kangen tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan dianggap
“robot”? Kenapa saya bertahan diabaikan? Bahkan semua lelaki normal pun
tidak ingin mengalami hal seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?
Saya
memang tidak pernah menuntut perhatian lebih, karena menurut saya, dia
adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang (mungkin) tidak punya
waktu untuk memikirkan orang lain. Saya tidak pernah menuntut dia untuk
memanggil saya dengan sebutan "sayang", "beb", "dear", or many more,
karena menurut saya, panggilan belum tentu melambangkan perasaan
seseorang.
Kamu memang pernah membajak otak saya.
Disetiap selnya berisi KAMU. Saya sering menulis tentang kamu,
memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi, saya pun juga harus
memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat menyayangi dan memberi
perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya, cinta itu harusnya
mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan. Kamu tidak kunjung
memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti
apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.
Kuharap Kau Mengerti
Jarak..
Kita terpisah ratusan kilometer jauhnya, ku kira itu hanyalah angka tak penting yang berada di antara kita. Tapi ternyata itulah yang disebut jarak.
Kamu Tahu?
Sakitnya jarak yang memisahkan kita membuatku selalu gelisah di tiap lelapku, meneteskan air mata di tiap doaku. Kamu tahu? aku di sini berusaha melawan jarak itu, aku berusaha bertahan dengan sisa-sisa cinta yang selalu kau sakiti. Aku tersenyum, setiap kali melihat tweetmu yang bahagia, itu artinya aku tahu bahwa kau di sana baik-baik saja dan kau bahagia di sana. Sesaat setelahnya aku sedih, karena terkadang tweet-tweet bahagiamu menunjukkan ada sesuatu dan aku tahu itu bukan untukku.
Seandainya Kamu Tahu
Entah sudah berapa kali "Sekali lagi kamu kaya gini, aku pergi" yang aku langgar, selalu bisa kucoba untuk memaafkanmu dan bertahan. Entah sudah sesering apa "Iya aku maafin jangan kaya gini lagi ya?" yang terucap dari bibirku yang penuh luka karena ku gigit tiap kali aku berusaha menahan tangisku karenamu. Aku bertahan, entah dengan alasan apa aku selalu bertahan dan memaafkan. Mungkin karena aku berharap suatu saat kau dapat mengerti cintaku.... Kapankah saat itu akan datang? karena aku tak tahu berapa lama lagi hati ini mampu menahannya.
Dari pria yang setia menunggumu.
Pria yang tak akan pernah letih untuk memaafkanmu.
Kita terpisah ratusan kilometer jauhnya, ku kira itu hanyalah angka tak penting yang berada di antara kita. Tapi ternyata itulah yang disebut jarak.
Kamu Tahu?
Sakitnya jarak yang memisahkan kita membuatku selalu gelisah di tiap lelapku, meneteskan air mata di tiap doaku. Kamu tahu? aku di sini berusaha melawan jarak itu, aku berusaha bertahan dengan sisa-sisa cinta yang selalu kau sakiti. Aku tersenyum, setiap kali melihat tweetmu yang bahagia, itu artinya aku tahu bahwa kau di sana baik-baik saja dan kau bahagia di sana. Sesaat setelahnya aku sedih, karena terkadang tweet-tweet bahagiamu menunjukkan ada sesuatu dan aku tahu itu bukan untukku.
Seandainya Kamu Tahu
Entah sudah berapa kali "Sekali lagi kamu kaya gini, aku pergi" yang aku langgar, selalu bisa kucoba untuk memaafkanmu dan bertahan. Entah sudah sesering apa "Iya aku maafin jangan kaya gini lagi ya?" yang terucap dari bibirku yang penuh luka karena ku gigit tiap kali aku berusaha menahan tangisku karenamu. Aku bertahan, entah dengan alasan apa aku selalu bertahan dan memaafkan. Mungkin karena aku berharap suatu saat kau dapat mengerti cintaku.... Kapankah saat itu akan datang? karena aku tak tahu berapa lama lagi hati ini mampu menahannya.
Dari pria yang setia menunggumu.
Pria yang tak akan pernah letih untuk memaafkanmu.
Rabu, 22 Mei 2013
TERUNTUK KAMU
Teruntuk kamu yang sosoknya masih saja bernaung di dalam relung hatiku.
Masih ingatkah dirimu dengan hari ini?.... ya hari ini seharusnya tepat 1 tahun hari jadi kita. "14 Mei 2012" Masih ingatkah kamu dengan tanggal ini? tanggal yang begitu penting bagiku, tanggal yang mengubah segalanya dalam hidupku. Oh ya... aku lupa bahwa kau sudah melupakannya.
Teruntuk kamu yang akan selalu jadi penyebab tawa dan senyumku.
Aku masih ingat saat itu, ketika aku berada di dalam kehancuran akan sakitnya realita cinta, saat itu kau datang. Tentu saja aku tidak mudah percaya awalnya karena aku telah merasakan sakitnya. Tapi seolah kau memberi harapan bagiku, kau mengulurkan tanganmu mencoba mengeluarkanku dari jurang keputusasaan. Entah kenapa aku setuju begitu saja, untuk sekali lagi aku mempercayai hatiku kepada seseorang, untuk sekali lagi aku percaya dengan yang namanya "CINTA".
Teruntuk kamu yang akan selalu aku rindukan.
Semuanya terasa begitu indah, bahkan aku lupa bahwa aku telah disakiti oleh cinta sebelumnya. Kamu yang selalu menjadi penyebab tawa dan senyumku, hanya dengan sebuah pesan singkat di pagi hari "Selamat pagi :) semangat ya hari ini" membuat aku lebih bersemangat menjalani hari, walaupun aku tahu bahwa hari yang akan kujalani tidak akan mudah, tapi aku yakin aku percaya. Dengan tegas aku melangkah karena aku tahu kau ada dibelakangku mendorong badanku agar tetap tegak setiap kali aku hampir putus asa. Saat dinginnya malam datang aku mulai kedinginan tanganku membeku, tapi selalu ada tanganmu yang datang menghangatkan. Di setiap doa kita selalu mengeja nama yang sama, mendoakan satu sama lain. Semakin lama aku bersamamu aku semakin yakin inilah cara Tuhan membahagiakanku setelah kepedihan yang kurasa dulu.
Teruntuk kamu yang juga menjadi penyebab tangisku.
Tiba-tiba semuanya berubah, dengan sekejap mata semuanya berubah tanpa aku bisa melakukan apa-apa. Kepergianmu sungguh membuatku terpukul, seolah kau membuangku kembali ke dalam jurang keputus-asaan yang pernah kau selamatkan aku darinya. "Aku sudah tidak mempunyai rasa padamu, aku tidak akan perhatian kepadamu seperti dulu" kata itu yang kau ucapkan padaku saat aku menelponmu setelah kepergianmu yang begitu tiba-tiba, masih terngiang jelas di setiap sudut otakku, kata itu.. kata yang membuatku terdiam seolah membisu, begitu terpukulnya aku saat kau mengatakan itu. Aku bertanya kenapa? aku masih tak mengerti akan jalan pikirmu yang secara tiba-tiba berkata seperti itu? apakah sudah ada yang lain di hatimu?... lalu kau mengatakan "Aku ingin mengejar cita-citaku".
Teruntuk kamu yang namanya masih terukir dihatiku.
Jika ternyata kehadiranku ternyata menghambatmu dalam mengejar cita-citamu, maka aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku tak akan menyalahkanmu jika dalam proses mengejar cita-citamu kamu justru akan menemukan yang lain, aku mengerti karena alasanmu yang sebenarnya adalah kau benar-benar sudah tak ada rasa lagi padaku. Maka dari pada itu aku akan mencoba menerima kenyataan. Tak akan ada lagi dirimu yang selalu menjadi penyokongku, tak kan ada lagi pesan singkat darimu yang menjadi penyemangatku di pagi hari, tak kan ada lagi candaan darimu yang selalu membuatku tertawa setiap saat, tak kan ada lagi genggaman tanganmu yang selalu menghangatkan tanganku ketika aku kedinginan, tak kan ada lagi namaku di setiap doamu.
Teruntuk kamu...
Semoga apa yang kamu cita-citakan akan tercapai, dan semoga kau bisa menemukan seseorang yang lebih tepat, aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu. Untuk yang terakhir kalinya "Happy 1st Anniversary Bunda :))"
Dari pria akan selalu mencintaimu
Dari pria yang akan selalu menunggumu
Aku merindukan kamu, dan kita yang dulu :')
Masih ingatkah dirimu dengan hari ini?.... ya hari ini seharusnya tepat 1 tahun hari jadi kita. "14 Mei 2012" Masih ingatkah kamu dengan tanggal ini? tanggal yang begitu penting bagiku, tanggal yang mengubah segalanya dalam hidupku. Oh ya... aku lupa bahwa kau sudah melupakannya.
Teruntuk kamu yang akan selalu jadi penyebab tawa dan senyumku.
Aku masih ingat saat itu, ketika aku berada di dalam kehancuran akan sakitnya realita cinta, saat itu kau datang. Tentu saja aku tidak mudah percaya awalnya karena aku telah merasakan sakitnya. Tapi seolah kau memberi harapan bagiku, kau mengulurkan tanganmu mencoba mengeluarkanku dari jurang keputusasaan. Entah kenapa aku setuju begitu saja, untuk sekali lagi aku mempercayai hatiku kepada seseorang, untuk sekali lagi aku percaya dengan yang namanya "CINTA".
Teruntuk kamu yang akan selalu aku rindukan.
Semuanya terasa begitu indah, bahkan aku lupa bahwa aku telah disakiti oleh cinta sebelumnya. Kamu yang selalu menjadi penyebab tawa dan senyumku, hanya dengan sebuah pesan singkat di pagi hari "Selamat pagi :) semangat ya hari ini" membuat aku lebih bersemangat menjalani hari, walaupun aku tahu bahwa hari yang akan kujalani tidak akan mudah, tapi aku yakin aku percaya. Dengan tegas aku melangkah karena aku tahu kau ada dibelakangku mendorong badanku agar tetap tegak setiap kali aku hampir putus asa. Saat dinginnya malam datang aku mulai kedinginan tanganku membeku, tapi selalu ada tanganmu yang datang menghangatkan. Di setiap doa kita selalu mengeja nama yang sama, mendoakan satu sama lain. Semakin lama aku bersamamu aku semakin yakin inilah cara Tuhan membahagiakanku setelah kepedihan yang kurasa dulu.
Teruntuk kamu yang juga menjadi penyebab tangisku.
Tiba-tiba semuanya berubah, dengan sekejap mata semuanya berubah tanpa aku bisa melakukan apa-apa. Kepergianmu sungguh membuatku terpukul, seolah kau membuangku kembali ke dalam jurang keputus-asaan yang pernah kau selamatkan aku darinya. "Aku sudah tidak mempunyai rasa padamu, aku tidak akan perhatian kepadamu seperti dulu" kata itu yang kau ucapkan padaku saat aku menelponmu setelah kepergianmu yang begitu tiba-tiba, masih terngiang jelas di setiap sudut otakku, kata itu.. kata yang membuatku terdiam seolah membisu, begitu terpukulnya aku saat kau mengatakan itu. Aku bertanya kenapa? aku masih tak mengerti akan jalan pikirmu yang secara tiba-tiba berkata seperti itu? apakah sudah ada yang lain di hatimu?... lalu kau mengatakan "Aku ingin mengejar cita-citaku".
Teruntuk kamu yang namanya masih terukir dihatiku.
Jika ternyata kehadiranku ternyata menghambatmu dalam mengejar cita-citamu, maka aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku tak akan menyalahkanmu jika dalam proses mengejar cita-citamu kamu justru akan menemukan yang lain, aku mengerti karena alasanmu yang sebenarnya adalah kau benar-benar sudah tak ada rasa lagi padaku. Maka dari pada itu aku akan mencoba menerima kenyataan. Tak akan ada lagi dirimu yang selalu menjadi penyokongku, tak kan ada lagi pesan singkat darimu yang menjadi penyemangatku di pagi hari, tak kan ada lagi candaan darimu yang selalu membuatku tertawa setiap saat, tak kan ada lagi genggaman tanganmu yang selalu menghangatkan tanganku ketika aku kedinginan, tak kan ada lagi namaku di setiap doamu.
Teruntuk kamu...
Semoga apa yang kamu cita-citakan akan tercapai, dan semoga kau bisa menemukan seseorang yang lebih tepat, aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu. Untuk yang terakhir kalinya "Happy 1st Anniversary Bunda :))"
Dari pria akan selalu mencintaimu
Dari pria yang akan selalu menunggumu
Aku merindukan kamu, dan kita yang dulu :')