Sabtu, 19 Juli 2014

Sepotong Senja

Sepotong senja kala itu, kita duduk berdua membicarakan banyak hal. Menertawakan berbagai hal, dan menagisi segala hal, hal-hal yang mungkin akan sering kurindukan ketika aku kini sendiri tanpamu.

“Bagas dan Lintang! Itulah nama anak-anak kita, Bagas laki-laki dan Lintang perempuan.” ucapmu semangat, dibalut senyum yang mengembang di sudut bibirmu.

“Matahari dan Bintang? Artistik sekali ya?” jawabku menanggapi pernyataanmu.

“Jelas!, karena aku ingin mereka menjadi mentari yang menghangatkan kita dan juga menjadi bintang yang menerangi gelap kita,” ujarmu singkat, tawamu tetap menyeruak. Aku tak sanggup berkata hanya tertegun memandangi indah ciptaan tangan Tuhan yang ada di sampingku saat ini, sembari tersenyum mendengar perkataanmu yang begitu semangat.

Sudah beberapa tahun sejak peristiwa itu, namun ingatanku masih begitu kuat tentangmu. Masih tersulut tawa renyahmu, masih kuingat caramu mengungkapkan rasa, dan masih begitu lekat suaramu menggelitik gendang telingaku. Dulu, aku dan kamu sempat menjadi kita, kita yang saling menyatukan rasa. Sosokmu yang penuh tanya, memaksaku untuk terus mencari jawabnya. Inikah yang disebut cinta? Selalu butuh tanya dan jawaban.

Tiba juga saat yang paling kutakutkan, saat jarak mulai memainkan perannya, saat angka ratusan kilometer seakan menjadi jurang pemisah.
“Aku akan melanjutkan pendidikanku di kota pelajar, Jogjakarta.” ucapmu dengan penuh antusias.

“Tampaknya aku akan melanjutkan pendidikan ku di sini, di kota Pontianak ini. Sebagai pengganti ayahku aku memiliki peran sebagai kepala keluarga yang harus menjaga ibu dan adikku,” Jawabku.

Jarak antara Jogjakarta dan Pontianak memang masih setia membusungkan dada, menyombongkan diri atas prestasi yang ia tekuni, memisahkan dua orang yang saling mencintai, menjauhkan dua insan yang masih saling berbagi rindu. Jarak memang tak selalu mampu kita tembusi. Sehingga kita berkencan dengan waktu, dan orang-orang menatapnya penuh tanya. Aku dan kamu menelan rindu diam-diam. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa, ketika jarak memang mempunyai hak untuk menjauhkan.

Semua mengalir dengan begitu indah, hingga pada sewaktu-waktu kamu mengatakan hal yang mencengangkan, “Ibuku tidak terlalu menyukai pria sulawesi.”

“Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana dengan kita?” tanyaku gelisah.

“Tapi, aku menyukaimu.” Jawabmu singkat, “Ibu baik kok, yang berhak memilih kan aku,” kata-kata itu membuat ku terdiam, tak kupungkiri aku tersenyum kecil saat kau mengatakannya.

Beberapa hari kemudian, kita berseteru. Percakapan yang mengalir lewat mata yang berkaca, kali pertama aku mendengar suara tangismu, begitu lembut, begitu tulus. Aku masih ingat usaha kerasmu untuk menguatkan langkah kita, agar tak ada yang merasa tersakiti di tengah jalan. Seandainya tak ada jarak, mungkin kita bisa saling menguatkan. Tapi, apalah daya yang kaupunya dan kupunya? Kita hanyalah dua manusia angkuh yang nekat melawan arus perbedaan. Aku dan kamu hanya ditakdirkan untuk berkenalan bukan untuk menjadi pasangan kekasih Tuhan.

Rindumu dan rinduku tak lagi saling menyapa. Aku dan kamu takkan mungkin bisa seperti dulu, semua berbeda, semua berubah. Aku dan kamu tak mungkin lagi menjadi kita, karena di sana mungkin kautelah bersama pilihanmu, dan di sini aku bersama pilihanku.



Kutahu kaubegitu mencintai senja dan kilau lembutnya. Kutahu kausempat memimpikan bisa melihat senja bersama dengaku, bersama dengan anak-anak kita. Tak sempat kulihat wajah Bagas dan Lintang, karena perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku dan kamu seakan-akan tak pernah saling mengenal.

Maaf, karena aku tak mampu memberi keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena aku tak bisa menggambarkan senja di bola matamu. Maaf, karena kubiarkan kamu memasuki hidupku. Harusnya kuakhiri segalanya, ketika kubiarkan kaumasuki hidupku. Jadi, takkan pernah ada kita dalam dongeng sebelum tidur ataupun dalam sejarah yang tak dibukukan.

Biarkan saja angin bersenandung sendiri
Biarkan saja wajahmu menggantung dalam sunyi
Biarkan saja tawa renyahmu menghantui hari
Itulah tanda
bahwa aku membiarkan diriku
untuk tetap merindukanmu
Hingga sekarang, masih ada doa yang mengaliri malam-malammu
Masih ada doa yang menghakimi kebahagiaanmu
Masih terucap lirih doaku, untuk menuntunmu pulang
ke sini…
pulanglah…
aku merindukanmu

Masih teringat olehku "14 Mei 2012", ponselmu dan ponselku jadi saksi, dua hati menjadi satu, melebur dalam perbedaan. Kamu wanita yang sempat menjadi senja dan malamku, wanita yang menjadi teman begadangku, si mata bulat yang pernah menjelma menjadi tangis dan tawaku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar