Sepotong senja kala itu, kita duduk
berdua membicarakan banyak hal. Menertawakan berbagai hal, dan menagisi segala
hal, hal-hal yang mungkin akan sering kurindukan ketika aku kini sendiri
tanpamu.
“Bagas dan Lintang! Itulah nama
anak-anak kita, Bagas laki-laki dan Lintang perempuan.” ucapmu semangat, dibalut
senyum yang mengembang di sudut bibirmu.
“Matahari dan Bintang? Artistik
sekali ya?” jawabku menanggapi pernyataanmu.
“Jelas!, karena aku ingin mereka
menjadi mentari yang menghangatkan kita dan juga menjadi bintang yang menerangi
gelap kita,” ujarmu singkat, tawamu tetap menyeruak. Aku tak sanggup berkata
hanya tertegun memandangi indah ciptaan tangan Tuhan yang ada di sampingku saat
ini, sembari tersenyum mendengar perkataanmu yang begitu semangat.
Sudah beberapa tahun sejak peristiwa
itu, namun ingatanku masih begitu kuat tentangmu. Masih tersulut tawa renyahmu,
masih kuingat caramu mengungkapkan rasa, dan masih begitu lekat suaramu
menggelitik gendang telingaku. Dulu, aku dan kamu sempat menjadi kita, kita
yang saling menyatukan rasa. Sosokmu yang penuh tanya, memaksaku untuk terus
mencari jawabnya. Inikah yang disebut cinta? Selalu butuh tanya dan jawaban.
Tiba juga saat yang paling
kutakutkan, saat jarak mulai memainkan perannya, saat angka ratusan kilometer
seakan menjadi jurang pemisah.
“Aku akan melanjutkan pendidikanku
di kota pelajar, Jogjakarta.” ucapmu dengan penuh antusias.
“Tampaknya aku akan melanjutkan pendidikan
ku di sini, di kota Pontianak ini. Sebagai pengganti ayahku aku memiliki peran
sebagai kepala keluarga yang harus menjaga ibu dan adikku,” Jawabku.
Jarak antara Jogjakarta dan
Pontianak memang masih setia membusungkan dada, menyombongkan diri atas
prestasi yang ia tekuni, memisahkan dua orang yang saling mencintai, menjauhkan
dua insan yang masih saling berbagi rindu. Jarak memang tak selalu mampu kita
tembusi. Sehingga kita berkencan dengan waktu, dan orang-orang menatapnya penuh
tanya. Aku dan kamu menelan rindu diam-diam. Kita juga tak bisa berbuat
apa-apa, ketika jarak memang mempunyai hak untuk menjauhkan.
Semua mengalir dengan begitu indah,
hingga pada sewaktu-waktu kamu mengatakan hal yang mencengangkan, “Ibuku tidak
terlalu menyukai pria sulawesi.”
“Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana
dengan kita?” tanyaku gelisah.
“Tapi, aku menyukaimu.” Jawabmu
singkat, “Ibu baik kok, yang berhak memilih kan aku,” kata-kata itu membuat ku
terdiam, tak kupungkiri aku tersenyum kecil saat kau mengatakannya.
Beberapa hari kemudian, kita
berseteru. Percakapan yang mengalir lewat mata yang berkaca, kali pertama aku
mendengar suara tangismu, begitu lembut, begitu tulus. Aku masih ingat usaha
kerasmu untuk menguatkan langkah kita, agar tak ada yang merasa tersakiti di
tengah jalan. Seandainya tak ada jarak, mungkin kita bisa saling menguatkan.
Tapi, apalah daya yang kaupunya dan kupunya? Kita hanyalah dua manusia angkuh
yang nekat melawan arus perbedaan. Aku dan kamu hanya ditakdirkan untuk
berkenalan bukan untuk menjadi pasangan kekasih Tuhan.
Rindumu dan rinduku tak lagi saling
menyapa. Aku dan kamu takkan mungkin bisa seperti dulu, semua berbeda, semua
berubah. Aku dan kamu tak mungkin lagi menjadi kita, karena di sana mungkin
kautelah bersama pilihanmu, dan di sini aku bersama pilihanku.
Kutahu kaubegitu mencintai senja dan
kilau lembutnya. Kutahu kausempat memimpikan bisa melihat senja bersama
dengaku, bersama dengan anak-anak kita. Tak sempat kulihat wajah Bagas dan
Lintang, karena perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku
dan kamu seakan-akan tak pernah saling mengenal.
Maaf, karena aku tak mampu memberi
keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena aku tak bisa menggambarkan senja di bola
matamu. Maaf, karena kubiarkan kamu memasuki hidupku. Harusnya kuakhiri
segalanya, ketika kubiarkan kaumasuki hidupku. Jadi, takkan pernah ada kita
dalam dongeng sebelum tidur ataupun dalam sejarah yang tak dibukukan.
Biarkan
saja angin bersenandung sendiri
Biarkan
saja wajahmu menggantung dalam sunyi
Biarkan
saja tawa renyahmu menghantui hari
Itulah
tanda
bahwa
aku membiarkan diriku
untuk
tetap merindukanmu
Hingga
sekarang, masih ada doa yang mengaliri malam-malammu
Masih
ada doa yang menghakimi kebahagiaanmu
Masih
terucap lirih doaku, untuk menuntunmu pulang
ke
sini…
pulanglah…
aku
merindukanmu
Masih teringat olehku "14 Mei 2012", ponselmu dan ponselku jadi
saksi, dua hati menjadi satu, melebur dalam perbedaan. Kamu wanita yang sempat
menjadi senja dan malamku, wanita yang menjadi teman begadangku, si mata bulat
yang pernah menjelma menjadi tangis dan tawaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar